Anomali Hati

Aku bahkan sudah lupa kapan terakhir kali otak dan hati ini bergelut. Situasi yang seringkali dimenangi hati. Bukan karena otak ku tak berfungsi, tapi karena aku membiarkannya mengalah. And that condition repeat on my life again. I don't know what to say and what to do. And I just can't tell anyone, that's why I remember I have this blog. Wkwkwkwkwkkk... 

God, I don't want to betray you, but now I think I like someone who believe in you in different way. So, what should I do? I do really believe in you and I love my Allah more than everything. But now, I'm happy to fill my day up with his name. 

I used to loved bad boys, before I closed my heart for long time. And now I meet a kind hearted person. He's not my typical boyfriend, but I like him. I like everything bout him.

Aku tahu tak ada alasan untuk bertahan menyukai seseorang yang mustahil dimiliki. Bukan karena dia memiliki yang lain, tapi karena dia mempercayai yang lain. Alasan ini jauh lebih menyakitkan dari apapun. Aku sendiri tidak tahu dimana awalnya. Ini terjadi begitu saja, dan tanpa kusadari aku telah terbiasa. Terbiasa dengannya. 

So stupid I know, but it so hurt. Aku tak bisa memilih pada siapa aku akan jatuh hati bukan? But, yeah, aku masih punya hak untuk berhenti atau bertahan. Aku tak pernah sadar, Ia bisa membaca isi otak dan hatiku yang selama ini aku lindungi dengan perisai yang kuat, Ditengah kenikmatan hidup sendiri ini, tiba-tiba seseorang menceramahiku dengan berbagai kata yang mengejutkan. Kemudian, memberikan perhatian yang telah lama tidak kudapatkan. Membuat si wonder woman ini feels so weak.

Gua baper njirrr... !!! T_T
Aku cuma bisa telan mentah hati yang mulai berjalan berlawanan arah dengan logika ini. Mulut terkunci, hati terus menari-nari, dan otakku berhenti berfungsi. Penyakit berat yang sudah bisa ditebak endingnya. 

May Allah give me the power to fight my feeling. Good luck for me to stop this situations. 
All the peoples are the same, We just have one God, but WHY we call him with many names and pray in the different ways ?

That's Wrong! What's Right?


Manusiawi jika seseorang merasa dirinya adalah yang paling benar. Namun, memanusiawikan segala hal yang diperbuat bukanlah hal yang benar. Apalagi membenarkan segala hal yang manusiawi baginya. Setiap orang unik, setiap nama memiliki sisi baik. Tidak pantas jika kau mengatakan salah pada hal yang tidak kau suka. Ia salah karena ia tidak seperti yang kau mau, bukan karena ia benar-benar salah. Mengapa perlu ada pengadilan di dunia dan akhirat ? Karena tidak ada yang sempurna. Tidak ada yang benar-benar salah, dan juga benar. Kita manusia yang selalu mengatasdasarkan manusiawi untuk membenarkan kesalahan. Kita juga selalu mengagungkan manusiawi untuk menyalahkan kebenaran. 

Aku hanya muak. Muak dengan sebuah pertanyaan terlebih pernyataan tentang benar dan salah. Tentang baik dan buruk. Tentang boleh dan tidak. 
Seorang yang bersalah dalam pengadilan dunia adalah berdasarkan kesepakatan dari beberapa orang yang berpikiran sama. Adalah kesepakatan yang dibuat berdasar bukti dan saksi yang memiliki bau sama. Sementara, pengadilan akhirat masih menjadi tanda tanya, yang kita tahu hanya menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Itu saja. 

Lalu, pantaskah kita menjadi hakim atas orang lain sementara tidak ada kesepakatan dengan siapapun di dalamnya, tidak juga dengan Tuhan. Kau hanya bicara dan bertindak berdasarkan apa yang kau pikirkan, apa yang benar menurut pikiranmu. Aku, dia, mereka, bisa jadi tidak setuju. Lalu, apa kau salah ? Atau kami yang salah ?
Kita terlalu sibuk memikirkan yang salah dan siapa yang salah. Hal yang juga aku lakukan saat mencoret blog ku kembali. Bertemu dengan banyak orang dengan berbagai karakter, tidak hanya membuatku belajar banyak hal. Namun juga menyesatkanku terhadap banyak kebenaran. Kebenaran yang terbentuk berdasarkan kesepakatan beberapa orang. Kebenaran yang belum tentu benar.


another fucking scratch about him

Sudah bukan sekuel lagi, sudah lebih dari trilogi. Sudah berkali-kali aku menggoreskan coretan tentangnya.
Kali ini kembali tentangnya. Tentang dia yang tak pernah bisa menghargai waktu, dia yang tak pernah menghargaiku. 
Disela padatnya jadwal lebaran dan liburan, aku sempatkan menemuinya. Silaturahim jadi dasarku untuk sekedar mengajaknya. Positive bukan ? Tapi tak seperti feedback yang kudapatkan. Lagi-lagi Ia membuatku kram otak, berpikir keras tentang apa yang salah. Entah aku, dia, atau waktu. Sepertinya ketiganya. 
Awalnya tak ada niat untuk menemuinya lagi. Namun, belakangan ini komunikasi kami cukup baik, dan aku punya planning untuk jenguk gunung sama temannya. Gak etis donk yah kalo dia gak disapa. Akhirnya, dengan penuh pertimbangan dan persiapan mental untuk sakit hati lagi, aku mengajaknya untuk sekedar ngopi. 
Buat kalian begundal bumi Arema, tentunya kalian tahu kalau sebuah tempat cozy bernama 'KL Express' bukan diperuntukan bagi penikmat kopi. Tempat yang enak buat hangout ini biasanya dipenuhi oleh para pecinta bir dan sejenisnya. Dia tak seharusnya mengajakku kesana, karena dia tahu betul aku sangat benci dengan aroma minuman favoritnya itu. 
Bete, sumpek, emosi. Awalnya aku benar-benar pengen kabur. Karena, wallahi gua benci banget baunya brayy... Tapi yawislah, dia tuan rumahnya, dan aku juga udah ikhlas diajak kemana aja. Aku pasrah dan mencoba untuk enjoy. Gak enak juga sama temen-temennya.
Persiapan mental untuk sakit hati benar-benar teruji. Dia sibuk dengan dirinya dan teman-temannya plus 'teman baru'nya. Thanks God, saat itu ada mas Gal yang seru diajak ngobrol, kalau gak gua udah pasti bakal kriuk kriuk garing dibuatnya. Sosok humble yang beberapa saat lalu memenuhi handphoneku berubah jadi makhluk mutan dari planet tak bernama yang entah dimana, menjadi super duper menyebalkan. 
Dia menganggapku seperti tak ada. Sekalipun berkata, hanya untuk menentangku atau menyudutkanku. Sampai akhir acara, dia hanya berlaku semaunya, melakukan segala hal yang aku tidak suka. Segala hal yang aku benci. Minum, maen cewek, ngebut. Aseli, tindakan terakhirnya, ngebut gak karuan bikin emosiku langsung naik di level tertinggi. Aku sampai gak bisa liat mukanya saat mobil berhenti. Karena kalo sampai aku liat dia, tinjuku otomatis akan menghantamnya tak beraturan. Gua benar-benar pengen nonjok itu laki waktu itu. 
Miss Temprament hampir saja out of control. Tapi, yang namanya Ratih. Emosi malam, bangun tidur paginya udah langsung kalem. Aku berniat untuk menemuinya lagi terakhir kalinya (so stupid I knew). Entah sesal atau syukur, dia tidak menemuiku, dengan alasan yang bisa ku tebak. 
Finally, aku hanya menemui mas Gal, karena memang sebelumnya aku sudah bertindak cukup kasar, sangat kasar malah. Barisan kata yang ingin ku muntahkan padanya, akhirnya aku luapkan pada sahabatnya. After that, there's no apologize from Mr So(k) Perfect, karena mungking dia berpikir aku yang salah. Bukan mungkin, udah pasti dia berpikir aku yang kasar dan salah. 
Apa sih yang aku inginkan ???
Hanya dia yang bersikap baik, bertingkah baik, berkata-kata baik, padaku, untukku, selama beberapa jam itu. That's all ! Hanya itu yang aku inginkan. 
Dia bisa minum berapapun, dia bisa tidur dengan siapapun, dia bisa ngebut kemanapun. 
Hanya sehari. Tidak, hanya beberapa jam. Hanya beberapa jam yang kuinginkan dia untuk meninggalkan itu semua. Selama didepanku. Selama bersamaku. Setelahnya aku takkan bisa melarang dia untuk melakukan apapun yang dia suka. Tapi, setidaknya saat bertemu denganku dia bisa menghargai waktu, dia bisa menghargai aku.

I'm grateful for having a good life today

What a good day
Seneng-seneng sama big family, bisa teriak bareng, ketawa ketiwi bareng. Liat Babe girang, liat Ibu senang, dan yang lain gila-gilaan. Pemandangan yang gak setiap saat, bahkan mungkin gak setiap ketemu bisa aku dapatkan.

Masih belum selesai
Nongkrong bareng sahabat yang walaupun sebentar tapi bisa musnahin penat. Penat di otak, penat dihati. Moment yang menyentakku, dan membuatku bangga dengan hatiku sendiri. Dulunya aku seringkali iri melihat para sahabat yang sibuk pacaran. Malam ini ? Aku benar-benar bahagia dengan kebersamaan mereka dan kesendirianku. Perasaan aneh, mungkin ini yang namanya ikhlas. And I really really really happy for them. That's all.

Hari ini aku kembali dihentakkan oleh waktu. Waktu yang hanya ada hari ini. Waktu yang takkan bisa ku ulang kembali. Waktu yang takkan mungkin bisa kuganti. Waktu yang akan selalu aku hargai.

Aku bahagia memiliki keluarga yang meskipun tak sering bersama, namun selalu ada dan bisa membuatku sangat bahagia. Begitupun sahabat, yang meski tak banyak, namun bisa kupercaya dan bahkan seperti saudara.

Thank u Allah SWT, all praise is to Allah SWT for bless me and give me a big happiness today. Alhamdulillah.

Shared from Handy Diary

Karawang, 24/05/16 23:31

Kembali, aku menjadi wasit dari pertempuran otak
Otak yang berjalan sendiri dan otak yang mengikuti hati
Otak yang mengikuti perasaan, tanpa perasaan menyakiti
Aku benci, aku gagal menjadi hakim yang adil atas otak yang saling berdebat
Otakku berhasil memutar kembali memori itu, namun hanya bagian indah yang terbaca
Terhapus sudah segala sakit dan marah itu, hilang tak bersisa
Sosok yang kubenci kembali menjadi yang berarti
Semakin hari otak ini semakin sulit berfungsi
Logikaku hilang, terganti dengan perasaan yang menari riang
Untuk seorang yang tak memiliki hati, aku seorang yang tak memiliki otak


Memeluk Lewat Do'a

Tahun ini tepat 10 tahun aku mengenalnya. Coba saja tanya segala hal tentangnya padaku, aku bisa menyebutkan hampir setiap detailnya. Si jago masak yang ucapannya sering kaya cabai ini bisa menjadi salah seorang yang bisa aku percaya dan aku andalkan dalam hidupku. Tawa, teriak, marah, dan tangis jadi satu kesatuan yang indah selama aku mengenalnya. Aku tak pernah takut sendiri, karena sahabatku satu ini selalu bisa menemani. Bahkan, liburan bareng setelah sekian lama berpisah pernah kita lakukan. Aku menculiknya dari suaminya saat itu. Aku terlalu sibuk, jelas bukan inginku. Tapi, hampir setiap Ia menghubungiku, sibuk selalu jadi nama tengahku. Si lulusan HI yang sekarang jadi juragan obat ini kadar sabarnya memang maksimal. Karena Ia selalu menunggu waktu luangku untuk sekedar berbagi cerita dan rindu. Forgive me Sayonk...
Begitu pula hari ini, saat jam kerja hingga pukul 12:00 WIB, aku masih menghabiskan waktu dikantor menunggu matahari kembali bersembunyi. Aku kemudian mengambil kalender untuk menandai jadwal kerjaku. Aku tersentak pada satu tanggal. Hari ini. 14 Mei di Kalenderku bertuliskan 1 nama, ONENG. Jelas bukan nama sebenarnya. Tapi, nama itu akan melekat hingga akhir hayat kita. Apa yang special di hari ini ??? She's got her great 28th !!!

 ALLES GUTE ZUM GEBURSTAG MEIN LIEBEN GESCHWEISTER ^_^


SUKSES SELALU DENGAN APOTEKNYA
SEMOGA CEPET NGASIH PONAKAN
ALWAYS BE MY TRULLY BEST FRIEND 

Saudari yang hanya bisa memelukmu dalam Do'a
"Teh"  
 

he's back and also my stupid things (sequel of bad boy the last boy i loved)

Hanya berselang satu coretan, dan aku menuliskan lagi coretan tentangnya. Almost 1 years since I met him, 10 months actually. Dia yang lari, dia yang meninggalkanku tanpa kata. Tiba-tiba muncul kembali, membuka kembali luka yang hampir sembuh. Aku hanpir memaafkannya, hampir mengikhlaskannya. Aku baru saja meneguhkan hati untuk berhenti memikirkannya. Meneguhkan diri untuk benar-benar pergi darinya. Tapi, aku justru menyambutnya. Aku menerimanya masuk kembali dalam hidupku, tanpa mempedulikan segala upaya yang telah kulakukan untuk menghapusnya. 
Aku mengkhawatirkannya, aku kembali memikirkannya. Aku mungkin bodoh. Tidak, sepertinya aku sudah benar-benar gila. Tak ada satu hal pun yang berubah darinya. Tak ada satu hal pun yang patut dibanggakan darinya. Namun, aku tetap menganggapnya berharga. Aku masih melihat kebaikan, pada dirinya yang diselimuti kegelapan. Aku sadar, dia bukanlah orang yang pantas untuk aku hargai atau kembali aku sayangi. Tapi, hati yang bodoh ini masih saja selalu menang melawan logiku. 
What should I do ???
Dia kembali, begitupula dengan kebodohanku T_T

Syukur Kufur

Hari ini menjadi Jum'at yang benar-benar barokah, sejak aku menempati kantor ini. Sejak 3 bulan yang lalu aku di mutasi ke Cabang dengan jabatan yang lebih tinggi. Kota yang menjadi tempat hidupku saat ini jauh lebih maju dibandingkan domisiliku (sorry to say, its just my opinion, do not blame me for this). 
Kenapa Jum'at kali ini menjadi benar-benar barokah ? Pertama, biasanya hingga kantor akan ditutup pekerjaanku masih saja menumpuk. Tapi, hari ini semua selesai bahkan jauh sebelum waktu pulang normal (16:30 wib). Kedua, hari ini aku menyadari bahwa aku masih memiliki banyak kekurangan dalam mempercayai Tuhan. Aku merasa berdosa, tapi aku bahagia karena aku masih diberi kesempatan dan waktu untuk menyadarinya. Terakhir, tepat sebelum aku menulis ini, aku disadarkan akan sesuatu.
Berhubung pekerjaan udah pada beres, aku iseng berdiri di jendela, disamping mejaku, di lantai 3. Dari jendela ini, aku bisa melihat teras, jalan didepan kantor, dan suasana SPBU yang ramai, yang tepat berada di seberang kantorku. Mataku terhenti pada sesosok pria separuh baya yang berdiri di jalan raya, di persimpangan rambu 'putar balik' (i dont know what's name for that sign). 
Untuk apa pria itu disana ??? 
Pekerjaannya membantu kendaraan yang akan berbelok balik.
 Lalu apa yang spesial ??? 
Aku mengamati cukup lama (walaupun gak sampai menua dan rambut memutih sih :D ) Beberapa motor dan mobil yang telah dibantunya melewatinya begitu saja. Hanya ada beberapa yang memberinya receh, yang aku prediksi cuma senilai Rp 500,- (angka minimal)
Karena aku seorang Credit Analyst, otak ku mulai bermain dengan angka, menghitung estimasi income yang didapatnya. Jika 1 mobil memberinya Rp 500,- maka dari 10 mobil Ia hanya mendapat Rp 5.000,-. Aku tak akan menghitung Motor karena pengendara motor biasanya bahkan enggan menyadari Ia berdiri disana. Bukan menyalahkan, karena aku salah satu dari pengendara motor yang mengabaikan pekerjaan pria tsb. Bahkan, aku sempat menganggap mereka yang melakukan pekerjaan tsb mengganggu. 
Okay, kembali ke estimasi income. Jika Ia ingin mendapatkan Rp 50.000 artinya Ia harus mendapat gopek-an dari 100 mobil, dan jika Rp 100.000,- maka harus ada 200 mobil per hari yang berbaik hati padanya. 
Aku terdiam. 100 mobil sehari apakah mungkin ? Itupun dia hanya mendapat Rp 50.000,-. Aku saja tidak cukup makan dengan Rp. 50.000,-/hari. Bagaimana dia ? Bagaimana istri dan anaknya ?
Keluar dari jobdesc sebagai Credit Analyst, aku kemudian berpikir sebagai seorang Sarjana Ilmu Politik, mengaitkan dengan hot issue saat ini yaitu Bom Sarinah. Apakah kesulitan ekonomi seperti ini bisa menjadi penyebab hingga seseorang rela menjadi pelaku bom bunuh diri. Aku membaca itu pada salah satu berita online tadi pagi. Mungkin saja. 
Aku lepaskan jobdesc dan background studiku. Kali ini aku berpikir sebagai seorang manusia. Manusia yang selalu mengeluh setiap harinya. Mengeluh terhadap dirinya, pekerjaannya, masa depannya, keuangannya, jodohnya, dan hingga akhirnya menyalahkan Tuhan sebagai penyebabnya. Aku mengeluh tentang pekerjaanku yang menyita waktu, membuatku stress. Padahal aku masih duduk di ruangan ber-AC, mengenakan seragam kantor, didepan komputer dengan banyak camilan di meja sambil mendengarkan musik. Sementara sosok pria yang kulihat, berdiri entah saat panas terik atau gerimis, di tengah jalan,  dengan puluhan kendaraan yang lalu lalang, bau asap knalpot dan suara bising kendaraan. Aku kufur akan nikmat Tuhan dan masih enggan bersyukur. 
Aku mendapat gaji tetap setiap bulan, terkadang mendapat tambahan dari orangtua. Kalau sedang jalan dengan pimpinan atau rekan kerja, terkadang aku makan tanpa keluar uang. Sementara Pria didepanku mencari rejeki dari keihklasan hari dengan hanya mendapat Rp 500,- syukur kalau dapat Rp 1.000,-. Maksimal Rp 2.000,- karena tidak ada lembaran Rp 3.000. Untuk mendapatkan angka Rp 5.000,- mungkin hanya terjadi satu banding seratus ribu. Aku kufur akan nikmat Tuhan dan masih enggan bersyukur. 

Hari ini aku disentak, aku dibangunkan Tuhan dari mimpi tentang kesombongan. Boss memanggilku, dan aku dengan sigap, bahkan berlari kecil datang cepat dihadapan pimpinan. Namun, saat adzan memanggil, aku hanya tetap fokus pada pekerjaan. Aku mengabaikan Tuhan, yang bahkan pencipta pimpinanku, bossku. Saat boss memberikan tugas, dengan cepat aku mengerjakan, aku hanya berambisi menyelesaikan tepat waktu. Namun, untuk sholat 5 waktu aku mengabaikan, dan terus menunda waktu, hingga kehilangan waktu itu. 

Inilah yang terjadi saat masalah pekerjaan, keuangan, dan ketenangan hati menggangguku. Aku malah menyalahkan keadaan dan Sang Pencipta keadaan. Aku kufur akan nikmat Tuhan, dan lupa bahwa kekufuran itu karena aku tak pernah bersyukur. Bersyukur untuk hidup yang masih diberikan. Bersyukur untuk keluarga yang masih disehatkan. Bersyukur untuk pekerjaan yang masih bisa memberi makan. Beryukur untuk orang-orang didekatku yang meski bukan pacar. Aku lupa bersyukur untuk itu semua. 

Dan Jum'at barokah kali ini menamparku dari kekufuran akan nikmat Tuhan selama ini dan menyadarkanku untuk bersyukur lebih baik dan banyak lagi. 
Terima kasih untuk Bapak yang tidak kukenal, dan semoga beliau diberikan semangat dalam pekerjaan dan diberikan rejeki halal untuk kehidupannya dan keluarganya.
Bagitu pula saya dan kita semua. Amin. 

Adios Markoden

Ini kali kedua aku menulis tentangnya. Sebelumnya, aku ditampar oleh cerita masa lalunya yang sanggup membuatku membuka mata. 
Hari ini Ia kembali menamparku, menyadarkanku bahwa setiap hal diciptakan berpasangan. Ada pertemuan, ada pula perpisahan.
Kata terakhir yang saat ini tak bisa kuterina. 
Aku memang orang yang paling benci dengan kata perpisahan, terlebih jika aku yang ditinggalkan. Seharusnya aku yang duluan pergi dibanding sobat-sobat koplak ku. Nyatanya, malah mereka yang satu persatu meninggalkanku. Takdir dan Tuhan berkuasa bukan??? 

Aku bilang padanya bahwa aku gak bakal bikin video perpisahan seperti yang ku berikan pada sobat lainnya. Karena memang, tulisan inilah salam perpisahanku. 
Pian taulah? gak sembarang orang yang bisa ku tulis di blog ku ? Hahahaaa

Apa yang menarik dari dia? 
Pertanyaan yang selalu kalian temukan dalam coretan perpisahan yang sudah ku tulis untuk beberapa orang.
Tidak ada. Awalnya dia hanya sosok biasa yang bahkan kuragukan kualitasnya untuk sebuah jabatan di kantorku. Nothing special. Sampai akhirnya aku berbagi cerita diluar urusan kerjaku. 
U know what? Si manusia koplak berubah jadi manusia super duper bijak. So much special, 1 kepala dengan 2 kepribadian yang bertolak belakang, namun cerdas dalam menempatkan dirinya. Anggaplah penilaian awalku terhadapnya 100% salah.

Terkadang dia menjadi seorang yang super jahil, konyol, dan menyebalkan. Tapi, aku tak pernah membenci sosok itu, karena dibalik wajah jutek ku, aku menyembunyikan tawa yang hampir tak tertahan. Namun, ada kalanya dia berubah menjadi manusia bijak. Walau setiap baris kata cerdas keluar dari mulutnya terdengar lucu Ia ucapkan, namun bisa menjadi spirit injection yang terkadang mengharukan. 

He's one of my bestfriend who always support, motivate, and make me laugh. So, how could I work here without him?

Last, inti dari ratusan huruf ini, sebenarnya hanya untuk mengatakan terima kasih dan maaf untuk segala hal yang tak pernah terucap. Sukses di tempat baru. 
Pian mungkin akan banyak menemukan teman yang lebih dari ulun, tapi pian gak akan pernah nemuin yang seperti ulun, dimanapun, kapanpun : )

Many people walk in and out in your life, but only true friend will leave footprints in your heart..

U just call out my name, and u know wherever I am, I'll come running to see u again..
Winter, spring, summer or fall..
All u got to do is call, and I'll be there, u've got a friend..

Adios Markoden...

F**cking Bulls**t!

Awalnya aku mau judulnya terpampang jelas. Tapi, berhubung aku seorang penulis yang masih memiliki sedikit etika, aku harus sensor segala kata kasar. 
Aku tak menemukan kata yang lebih lembut lagi untuk menggambarkan kekesalanku atas apa yang terjadi pagi ini. 

Sudah tradisi setiap tahunnya di tanggal 14 Februari 2014, kantorku mengadakan acara tukar kado dan cokelat. Intinya hanya kebersamaan bukan sepenuhnya mempercayai tanggal tersebut seperti mayoritas orang. Pengetahuan agamaku juga terlalu dangkal untuk memberikan tanggapan soal tanggal itu. 
Beberapa hari lalu, aku sempat bertanya pada unit headku. "Mbak, kok gak ada yang bikin acara tuker kado ya?  Kan udah tinggal bentar lagi". Dan hanya dijawab dengan ketidaktahuan. Dari pertanyaanku beberapa hari yang lalu, kalian tentu sudah bisa mengambil kesimpulan bahwa aku menanti moment tahuna itu. 
Di pagi ini, seperti biasa kami meeting pagi. After all unit menyampaikan reportnya, pengumuman yang aku tunggu pun tiba. Pengumuman acara tukar kado. Tapi, sayangnya tidak sesuai harapan. Pengumuman masih diawali dengan voting. Masih meminta persetujuan pada semua pihak. Bagus memang, kalian semua pasti setuju. Tapi, sense of political science ku berkata kuat, ini hanya sebuah kondisi sok demokrasi yang aslinya democrazy. Aku, yang sudah bersiap angkat tangan cepat dalam kelompok pro, langsung mengurungkan niatku, dan memilih untuk menyeberang.
Benar saja. Saat voting yang setuju, hanya ada 1 tangan terangkat, yaitu pembawa berita. Berikutnya, boss besarku yang ikut tunjuk tangan tanda setuju. Barulah puluhan tangan lainnya mengudara. 
Ouwww shit... aku seperti menonton barisan robot pesuruh yang dikendalikan lewat remote kontrol. Kemana idealisme nya orang-orang ini?  Kenapa harus delay dan didahului pimpinan dulu baru mereka berani mengutarakan pendapat. 
Dan aku akhirnya tunjuk tangan cepat untuk barisan kontra. Niatku untuk menampar dan menyadarkan beberapa orang yang awalnya aku tahu tidak setuju, tapi ikut setuju. Mengapa takut menjadi minoritas dengan mengorbankan keyakinan akan pendapat diri sendiri? 
Aku pun jadi satu-satunya manusia kontra yang mendapat pertanyaan dari big boss "Kamu punya ide lain? "
"Gak ada pak!", jawabku lantang. Terang saja, karena beberapa hari ini aku justru memikirkan ide untuk acara itu bukan sebaliknya. 
Seharian aku membenci wajah-wajah yang kuanggap penjilat dan munafik. Lalu, malam ini aku tersadar bahwa aku adalah bagian dari orang-orang munafik itu. Aku lazimnya berada di kelompok pro, bahkan aku sempat ingin mengutarakan ide acara dan sempat bertanya tentang acara itu beberapa hari lalu. 
Tapi, hari ini, aku justru menentangnya dengan beralasan ingin menyadarkan orang-orang yang takut mengutarakan pendapatnya hanya karena kalah massa. Aku sombong akan keberanianku dan merasa sudah lebih mengajari mereka yang pengecut. Sebenarnya, apa bedanya aku dengan mereka? Aku juga menentang pendapatku yang sejatinya. Aku juga telah membohongi diri sendiri. Dan aku telah menjadi penjilat untuk kesombonganku sendiri. Damn, I love what I did, but I hate my self today.